Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Rectoverso: Mozaik-Mozaik Cinta Tak Terucap

IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Dalam suasana bulan kasih sayang film drama  cinta Rectoverso tayang di bioskop  tanah air. Film yang diangkat dari Kumpulan Cerpen karya Dewi…

Film Dokumentasi Budaya: Mengawal Tradisi "Muludan" Keraton Cirebon

IndonesiaSeni.com, Cirebon – Mauludan tahun ini di Keraton Kasepuhan Cirebon terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Upacara Mauludan yang digelar pada 16 Februari tersebut disertai pembuatan…

Menilik Fundamentalisme Agama Lewat Film "Khalifah"

IndonesiaSeni.com, Jakarta - Tema reliji masih menjadi tema yang menarik untuk dituangkan ke dalam sebuah film bagi sutradara generasi baru Indonesia, Nurman Hakim. Setelah sukses…

Menilik Fundamentalisme Agama Lewat Film Menilik Fundamentalisme Agama Lewat Film

Proyek-proyek Keterasingan Sosial

    IndonesiaSeni.com, Jakarta - Adalah Louis Malle seorang sutradara Perancis (1932-1995) yang banyak memberikan kontribusi yang besar terhadap dunia perfilman Perancis maupun dunia internasional.…

Proyek-proyek Keterasingan Sosial Proyek-proyek Keterasingan Sosial

"Sang Pencerah", Kisah Seru Sosok Pembaharu

IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Jika agama diturunkan Tuhan sebagai rahmatan lil alamin–rahmat bagi alam semesta, seharusnya, agama  mampu menghadirkan kenyamanan bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Seperti…

Print
PDF
02
April
2010

Mencari ‘Hantu’ di Atas ‘Ranjang’ : Saat Film Horor Menjadi Porno

image

 

IndonesiaSeni.com - Film horor adalah genre film yang berusaha memancing emosi berupa ketakutan dan rasa ngeri dari penontonnya. Alur ceritanya berkutat pada tema-tema kematian, supranatural, dan penyakit mental. Sebelum Perang Dunia II, mayoritas film horor terilhami dari karya-karya sastra klasik bertema horor dari negara-negara Barat, misalnya The Phantom of the Opera (1925), Drakula (1931), Frankenstein (1931), dan Dr. Jekyll and Mr. Hyde (1941). Pasca Perang Dunia II, film horor justru terinspirasi dari kegelisahan hidup yang timbul setelah Perang Dunia II berakhir. Dari sini, di Amerika Serikat, terciptalah 3 subragam yang berbeda, tapi saling berkaitan. Tiga subragam itu adalah horor-kepribadian (film Psycho tahun 1960), horor-kiamat (film Invasion of The Body Snatchers tahun 1956), dan horor-setan (film The Exorcist tahun 1973) (wikipedia.org).

 

Di Indonesia sendiri malah berkembang beberapa subragam film horor, seperti horor-komedi, horor-biografi, dan horor-sejarah sosial. Subragam horor-komedi ditandai dengan film Mayat Cemburu (1973). Sedangkan horor-biografi ditandai dengan film Kisah Nyata Dukun AS (1997), serta horor-sejarah sosial ditandai oleh film Misteri Banyuwangi (1998) (rumahfilm.org). Saat ini, subragam yang sedang berkembang dan mengisi bioskop adalah horor-komedi. Saya pikir, film horor merupakan genre film yang paling populer di Indonesia. Penerimaan penonton yang luas, menjadikan film horor termasuk bisnis yang menguntungkan. Namun sekarang ada fenomena miris di film horor kita. Jika dilihat pakai kacamata awam saja, film horor kita lebih banyak diisi oleh adegan seks daripada adegan mengerikannya.

 

Menurut beberapa sumber, film Tengkorak Hidoep (1941) merupakan film horor pertama di Indonesia. Menurut sutradaranya, Tan Tjoei Hock, film ini termasuk laris di pasaran. Tengkorak Hidoep yang dibintangi artis teater ternama dan seniman serba bisa, Tan Tjeng Bok, menceritakan tentang petualangan beberapa orang di pulau Mustika. Raden Darmadji dan beberapa kawannya ke pulau itu. Di dekat tempat tersebut, 10 tahun lalu ada kapal yang karam. Kapal itu ditumpangi oleh saudaranya. Di pulau tersebut 2.000 tahun yang lalu juga terkubur Maha Daru setelah bertempur dengan Dewi Gumba. Saat menyelidiki gua, hujan turun lebat dan kuburan Maha Daru terbelah. Setelah keluar dari gua, Darmadji dikejar orang-orang liar. Rumiati, anak perempuannya, ditolong Maha Daru karena dianggap reinkarnasi Dewi Gumba. Padahal Maha Daru punya maksud jahat kepada Rumiati. Akhirnya ia ditolong seorang pemuda yang hidup di hutan (Kristanto, 2005: 11). Dalam buku Film Indonesia (1900-1950), film produksi Action Film ini laku lantaran memperlihatkan keajaiban trik kamera, yaitu tengkorak (Maha Daru) bisa hidup (Abdullah dkk, 1993: 229). Tapi, JB Kristanto dalam buku Katalog Film Indonesia, menyebutkan bahwa film horor pertama adalah Lisa, yang diproduksi pada 1971.

 

Entah mana yang pertama, yang jelas sejak itu perkembangan film horor di Indonesia terus meningkat. Peminatnya pun terbilang besar. Lihat saja fakta ini. Dalam catatan sejarah, pada 1981, film Sundel Bolong yang dibintangi ratu film horor, Suzanna, mampu menjadi film terlaris ketiga di Jakarta. Menurut data Perfin, penontonnya mencapai 301.280 orang. Satu tahun kemudian, pada 1982, film Nyi Blorong yang juga dibintangi Suzanna bahkan mampu menjadi film terlaris pertama di Jakarta, dengan jumlah penonton 354.790 orang. Dengan jumlah sebanyak itu, film ini berhasil menyabet Piala Antemas FFI (Festival Film Indonesia) untuk kategori film terlaris 1982-1983, sekaligus mengangkat nama Suzanna sebagai ikon film-film bergenre menyeramkan ini. Pada perkembangan selanjutnya, film-film bergenre horor mampu menarik hati khalayak luas, meskipun tidak selalu meraih penghargaan.

 

Lalu apa masalahnya? Masalah datang bukan lantaran film ini terus menyedot penonton, tapi karena bumbu seks yang menyertai terlalu berlebihan dalam film ‘hantu-hantuan’ ini. Sekarang, film horor malah lebih banyak (baca: over dosis) diisi oleh adegan ranjang yang membuat mata kita membelalak dan air liur kita mengecas. Masih segar sekali dalam ingatan kita, bagaimana film Hantu Puncak Datang Bulan di awal tahun ini dicekal oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) karena dianggap porno. Dalam film ini ada beberapa adegan hot, misalnya saja adegan ranjang Andy Soraya dengan Ferly Putra. Dalam film ini juga ada adegan syur Lia Trio Macan. Andy Soraya bahkan berani mengumbar aurat yang paling vital, meski cuma beberapa detik, di film ini. Belakangan Andy Soraya menyebutkan, film Hantu Puncak Datang Bulan ganti judul menjadi Dendam Pocong Mupeng, dengan cerita yang masih sama. Selain itu, film Suster Keramas juga bernasib sama. Akhir 2009 lalu, film ini juga dicekal oleh MUI. Film ini menampilkan bom seks asal Jepang, Rin Sakuragi. Kontroversi muncul karena beberapa adegan yang dimainkan Rin Sakuragi memamerkan kemolekan tubuhnya. Sebenarnya, dengan melihat judulnya saja kita sudah dapat mengidentifikasikan film-film macam begini. Selain Hantu Puncak Datang Bulan dan Suster Keramas, ada Diperkosa Setan, Hantu Jamu Gendong, Kain Kafan Perawan, Paku Kuntilanak dan lain sebagainya.

 

Sejatinya bumbu seks di dalam film horor kita sudah ada dari dulu. Jika kita masih ingat, pada 1988, film Pembalasan Ratu Laut Selatan yang dibintangi oleh Yurike Prastica sempat membuat heboh publik. Film ini dianggap terlalu mengeksploitasi seks. Pembalasan Ratu Laut Selatan bercerita soal balas dendam Nyi Roro Kidul karena telah dipermalukan oleh lelaki sakti. Nyi Roro Kidul lalu menggunakan jasad Wanda (Yurike). Lelaki yang menyetubuhi Wanda akan tewas, karena ada keris yang keluar dari kemaluannya. Setelah banyak protes dari masyarakat, film ini akhirnya ditarik dari peredaran oleh BSF (Badan Sensor Film). Setelah disensor ulang pada 1994, masa tayangnya cuma 80 menit saja (Kristanto, 2005: 314).

 

Orang-orang yang berada di balik layar pembuatan film-film begini kerap menangkisnya sebagai sekadar bumbu semata. “Kalaupun ada elemen seks di dalamnya, hanyalah bumbu semata dan bukan faktor utama, toh saya sudah minta pada pihak bioskop untuk memproteksi bahwa film itu untuk kategori dewasa, itu bagian dari tanggung jawab moral saya, jadi jangan dipikir cuma mengejar materi,” kata Helfi C.H. Kardit, sutradara film Suster Keramas (Vivanews, 27 Februari 2010).

 

Sudah parahkah keadaan film horor kita? Menurut saya, jawabannya iya. Sekarang yang dijual oleh film horor bukan melulu ‘hantu’ yang menyeramkan, tapi sudah ‘ranjang’. Memang itu semua adalah masalah kreatifitas para pelaku film yang mengolaborasikan ‘hantu’ dan ‘ranjang’. Sah-sah saja. Tapi lama-lama kolaborasi ‘ranjang’-nya makin keterlaluan. Adegan seks lebih diutamakan daripada adegan mencekam. Buat saya, yang menyeramkan dari film horor semacam ini bukan lagi hantunya. Tetapi nasib dunia perfilman kita selanjutnya, jika film-film seks berkedok horor ini terus saja diproduksi. Sudah seharusnya LSF (Lembaga Sensor Film) bertindak atas menjamurnya film-film tersebut. Saya jadi berpikir, film kita akan mengulang lagi sejarah suramnya. Pada 1990-an, sebelum film kita mati suri, bioskop dipenuhi oleh film-film ‘esek-esek’. Mungkinkah sejarah berulang kembali?

 

 

FANDY HUTARI,

Penulis lepas dan penyuka film Indonesia.



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites

Author: Fandy Hutari (Kontributor)

Add comment


Security code
Refresh