Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Pentas Tari Kontemporer: Fragmen Diri di Ranjang Putri

Satu problem besar bagi orang kota adalah keterasingan raga personal.Mati-matian mereka mencari cara berdamai dengannya.Demikian juga yang dialami oleh Rizki Suharlin Putri, alias Putri, seorang koreografermuda dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ia membagi kegelisahan tubuh…

Mengingkari Keagungan Teater

Pertunjukan RAMBUT PALSU, karya Peter Karvas oleh Teater CassanovaPada kebermulaannya teater adalah sebuah kebersamaan yang saling meluruhkan tubuh dalam sebuah entitas yang saling telanjang. Teater merespon “ketidaktahuan teks”dalam sebuah media yang paling intim, yaitu tubuh.…

“Repertoar Sabun Colek”, Tentang yang Terpinggirkan

IndonesiaSeni.com - Teater Stasiun kembali berkarya setelah pementasan “Teroris” Albert Camus, tahun 2006 silam. “Repertoar Sabun Colek” karya Edian Munaedi, yang menulis naskah sekaligus menyutradarai pementasan ini hadir untuk melepaskan kerinduan dalam ruang teater, sekaligus…

“Repertoar Sabun Colek”, Tentang yang Terpinggirkan “Repertoar Sabun Colek”, Tentang yang Terpinggirkan

Pantomim, Bentuk “Therapy” untuk Masyarakat

Sewaktu kecil, saya pernah menonton pertunjukan teater Septian Dwi Cahyo  yang tidak bersuara di layar TVRI. Saya pun pernah menonton film bisu Charlie Chaplin yang mengandalkan gerak-gerik kocak. Lalu, orangtua saya berkata kalau itu adalah…

"Sie Jin Kwie di Negeri Sihir", Satu “Koma” Lagi dari Teater Koma

IndonesiaSeni.com, Jakarta - Alkisah seorang jendral besar bernama Sie Jin Kwie memimpin pasukan Tang berperang ke Barat. Namun, dalam pertempuran, Sie Jin Kwie terluka parah dan nyaris sekarat, bahkan arwah Sie Jin Kwie sempat melayang…




IndonesiaSeni.com, Jakarta - Gelaran Festival Teater Jakarta 2011 resmi dibuka Selasa malam, 29 November, dan akan berlanjut  hingga 14 Desember 2011. FTJ Kali ini akan menampilkan 14 grup teater hasil seleksi dari lima wilayah Jakarta, yang tampil menyebar di beberapa ruang pertunjukan di Jakarta. FTJ yang ke-39 sejak digelar pertama kali tahun 1976 ini mengambil tema “Membaca Aku, Membaca Laku” yang dimaksudkan menjadikannya sebagai  platform pembentukan potensi teaterawan ibukota.

Menurut Ketua Panitia FTJ 2011, Malhamang Zamzam, seleksi peserta yang  dilakukan di lima wilayah itu menyaring  56 kelompok dan mengambil  15 terbaik, ditambah satu pemenang tahun sebelumnya. Tetapi dua dari 16 grup itu, Teater Gumilar dan Teater Pohon, mengundurkan diri karena  menolak pelaksanaan di luar kompleks Taman Ismail Marzuki.

Tahun ini FTJ akan dilaksanakan di delapan tempat. Dimulai di Teater Jakarta, TIM, dan akan ditutup di Gedung Kesenian Jakarta. Menurut  Dewi Noviami, Ketua Komite Teater Jakarta, pelaksanaan di luar TIM ini yang pertama sejak FTJ digelar kembali di TIM tahun 2006, “Ada kekhawatiran bila FTJ  tercampak dari tempat yang dianggap pusat kesenian ini,” Namun menurutnya masalah ini tidak akan mengganggu pelaksanaan FTJ, tapi masalah ini akan dibicarakan setelah FTJ berakhir, “Komite Teater akan memecahkan masalah ini. Bersama asosiasi teater lima wilayah akan mengadakan kongres untuk menyelesaikan kebingungan penyelenggaraan FTJ kali ini,” Novi menekankan bahwa yang terpenting adalah pembinaan terhadap kelompok teater amatir dan menjadikan  lomba sebagai sebuah pameran capaian artistik dari proses pembinaan tersebut.

Peserta FTJ 2011 berdasarkan urutan tampil adalah Stage Corner Community, Teater Sketsa, Teater Merah Maroon, Teater Anam, Teater Popcorn, Teater Mode, Teater Pangkeng, Teater Fitrah, Study Teater 24, Teater Ghanta, Teater El Nama, Teater Nonton, Teater Indonesia, dan Teater Amoeba. Kelompok-kelompok teater ini akan berebut  sebelas penghargaan meliputi Grup Terbaik I,II, dan III, Sutradara Terbaik, Tata Artistik Terbaik, Aktor dan Aktris Terbaik, Aktor dan Aktris Pembantu Terbaik, Tata Musik Terbaik, serta Naskah Drama Asli Terbaik.

Pembukaan FTJ dimulai dengan pertunjukan tiga aliran silat dari kepulauan seribu. Festival ini kemudian dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Arie Budiman. Dilanjutkan dengan pementasan Wayang Kampung Sebelah yang membawakan lakon “Pelacur dalam Perspektif Sosiologis”. Sekocak judulnya, Ki Jelitheng Suparman bersama rombongan wayangnya berhasil memenuhi ruang Teater Jakarta dengan ledakan tawa penonton.

Seluruh penampilan peserta akan dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Putu Wijaya, N. Riantiarno, Benny Johannes, Dindon WS dan Afrizal Malna. Selain pementasan teater, FTJ 2011 juga menyelenggarakan beberapa acara pendukung yaitu:  pasar drama, warung kepulauan seribu, diskusi tematik, peluncuran buku, pemutaran dokumentasi video teater dan penerbitan majalah teater.

 




Add this page to your favorite Social Bookmarking websites

Add comment


Security code
Refresh