Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Eksklusif - Wawancara dengan Jamal D. Rahman "Takut Amat Buku Itu Paling Berpengaruh?"

BUKU 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh menjadi bom kontroversi di media sosial hingga melahirkan gerakan petisi penolakan peredarannya. Buku ITU dinilai cacat sejarah oleh beberapa sastrawan dan kritikus sastra karena memasukkan Denny JA yang…

Eksklusif - Wawancara dengan Jamal D. Rahman Eksklusif - Wawancara dengan Jamal D. Rahman

Cerpen: Panggil Aku Pahlawan Penghianat

      Ribuan, bahkan jutaan manusia memenuhi Taman Pemakaman Umum (TPU) di Desa Sukamenang. Sebuah Desa yang berada di ujung Negeri Indonesia. Puluhan orang yang menggotong keranda kematian, saling silang untuk mengganti sudut pemikul keranda. Mereka…

Benarkah Tak Ada Karya Sastra Indonesia yang Mendunia Selama 100 Tahun?

Bulan Februari 2013 ini, ramai dibicarakan soal polemik Andrea Hirata, penulis novel Laskar Pelangi, dengan Damar Juniarto alias Amang Suramang, seorang publisis dan moderator komunitas baca Goodreads. Polemik berawal, ketika Damar menulis sebuah artikel di…

Puisi-Puisi Sarah Monica

SANG PEMBURUDengarlah, hai sang penguasa waktu;tanahMu berhutang atas tiap denyut yang darahku getarkan,lautMu mengemis dari tiap garam yang aku teteskan,dan di puncak ubun-ubunku, langitMu tidak lagi merajaatas takdir yang kugoreskan sendiri di urat keningku.Di mana…

Tarian Kata - kata: Bedah Buku dan Pertunjukan Puisi Badruddin Emce

Hanya para pendendam tega menyalahkanmu,lalu menangkapmu, memenjarakanmuseumur puisi.IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Baris-baris dalam puisi Diksi Para Pendendam itu dibacakan di depan puluhan hadirin dalam acara Tarian Kata-Kata: bedah buku dan pertunjukan puisi Diksi Para Pendendam karya…

Tarian Kata - kata: Bedah Buku dan Pertunjukan Puisi Badruddin Emce

Print
PDF




Hanya para pendendam tega menyalahkanmu,
lalu menangkapmu, memenjarakanmu
seumur puisi.



IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Baris-baris dalam puisi Diksi Para Pendendam itu dibacakan di depan puluhan hadirin dalam acara Tarian Kata-Kata: bedah buku dan pertunjukan puisi Diksi Para Pendendam karya Badruddin Emce di limasan Pesantren Kaliopak, Yogyakarta, 30 Mei 2012. Launching ini merupakan salah satu dari serangkaian acara peringatan 50 tahun Lesbumi di Yogyakarta. Sebagaimana memasuki kampung tempat pesantren budaya itu berdiri, puisi tidak hanya dinikmati oleh para penggiat sastra tetapi juga warga setempat. Puisi pun malam itu tidak hanya dibacakan tetapi juga ditarikan oleh anak-anak kampung Klenggotan dan Cokrojayan. Acara yang diketuai oleh Sarah Monica ini bertujuan menghadirkan puisi ke tengah banyak kalangan. Keinginan tersebut disambut baik oleh wakil PWNU Yogya sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak, M. Jadul Maula, dan diwujudkan dengan berhasil malam itu.


Diawali dengan kidungan (nyanyian dalam bahasa Jawa) yang dibawakan oleh Pak Kadi, hadirin diantar ke dalam suasana malam perkampungan. Dilanjutkan dengan tarian puisi Dari Jauh yang dibawakan oleh anak-anak Sanggar Kaliopak. Senyum dan sorak hadirin terdengar mengikuti tarian itu. Lebih-lebih setelah anak-anak dari Sanggar Cokrojayan turut menarikan puisi Badruddin Emce, Perilaku Malam. Terbukti bahwa puisi dapat menampilkan dirinya dalam bentuk lain, dan hadir tanpa mengenal usia.

Usai ditarikan, puisi Badruddin Emce dibacakan oleh sejumlah penulis dengan label baru mengikuti tren perfomance masa kini, stand-up puisi. Penulis dari Solo, Fanny Chotimah, membukanya dengan puisi Kembang Wijayakusuma yang mengingatkannya akan tanaman yang tekun dirawatnya di halaman rumah. Stand-up puisi dilanjutkan oleh penyair Nur Wahida Idris yang selain membacakan puisi Pak Bad (panggilan akrab Badruddin Emce), juga menghadiahkan puisi terbarunya. Lalu diakhiri oleh Sartika Dian yang mengajak hadirin menyimak puisi yang pernah ditulis Pak Bad untuk ketua panitia, Teman ke Kampung Laut.





Sejumlah performance tadi menjadi pengantar memasuki inti acara malam itu, diskusi antologi puisi terbaru Badruddin Emce, Diksi Para Pendendam. Dimoderatori oleh penyair muda, Mutia Sukma, diskusi menghadirkan dua pembicara dari Yogya, Raudal Tanjung Banua dan Tia Setiadi. Raudal, sastrawan sekaligus pemilik Akar Indonesia yang menerbitkan antologi ini, membandingkan puisi-puisi Badruddin Emce dengan puisi-puisi Mardi Luhung yang sebelumnya diterbitkan oleh penerbit yang sama. Dalam pembahasannya, latar belakang penyair dinyatakan memberi pengaruh besar pada karyanya. Puisi Pak Bad dinilai lebih pelan dan kontemplatif, dengan pilihan bahasa melalui prosedur-prosedur tertentu yang terasa lebih santun. Bahasa sehari-hari atau pedalaman yang kerap digunakan membentuk puisinya menjadi “kontemplatif ndeso”. Ekspresi inilah yang membedakannya dengan puisi Mardi Luhung yang terasa cepat dan fragmentatif, dengan pilihan bahasa langsung. Tema-tema seputar Cilacap juga diangkat dalam antologi tersebut. Adapun yang menjadi kelemahannya, menurut Raudal, adalah pemungutan tema-tema kecil yang kurang signifikan sehingga terkesan lewat begitu saja.

Berbeda dengan Raudal, Tia Setiadi mencoba mengawali pembahasannya dengan mengemukakan jalan puisi Robert Frost. Jika Frost menempuh jalan yang terus sama, Badruddin Emce ketika menghadapi dua cabang jalan tidak memilih keduanya tetapi justru membuka jalannya sendiri. Bentuk, atau dalam istilah Tia ‘teknik pertukangan’, puisi Badruddin Emce mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Dalam diksi pertamanya puisi Pak Bad memiliki kecenderungan puisi gelap seperti Afrizal dengan adanya metafor bertumpuk, abstraksi membingungkan, dan kalimat-kalimat alien. Namun puisi-puisi tersebut belakangan semakin terang.

Berbagai tanggapan muncul dari hadirin, di antaranya pembaca aktif, Wahmuji dari Mediasastra.com dan Dea Anugerah dari Fakultas Filsafat UGM. Wahmuji tertarik mempertanyakan lebih lanjut relasi bahasa puisi Pak Bad dengan latar sosial Cilacapan serta kaitannya dengan modernisme. Sementara Dea merasa kehilangan arah justru pada diksi-diksi terakhir. Respon lain pun bermunculan menghidupkan diskusi malam itu.

Badruddin Emce memberikan tanggapannya dilanjutkan dengan pembacaan puisi. Acara yang berjalan serius kembali dicairkan dengan stand-up puisi dari Budi Yusanti, Asni Furaida, Risti, Dina Fatimah, serta tarian puisi Ronggeng Selendang Hijau Pupus Pisang oleh Risma Sugiartati dan Danti dari Teater UI. Acara berakhir dengan ramainya stand-up puisi dari para hadirin. Malam itu, puisi bergerak dinamis melewati bentuk ekspresi yang beragam, melalui tiga generasi yang berbeda, dan sejumlah penafsiran yang cair dan serius. Dini hari, satu per satu hadirin meninggalkan limasan Pesantren Kaliopak dengan pilihan diksi pikirannya masing-masing.


Retno Iswandari,

Mahasiswi Pascasarjana Ilmu Sastra UGM



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites

Add comment


Security code
Refresh