Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Rectoverso: Mozaik-Mozaik Cinta Tak Terucap

IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Dalam suasana bulan kasih sayang film drama  cinta Rectoverso tayang di bioskop  tanah air. Film yang diangkat dari Kumpulan Cerpen karya Dewi…

Film Dokumentasi Budaya: Mengawal Tradisi "Muludan" Keraton Cirebon

IndonesiaSeni.com, Cirebon – Mauludan tahun ini di Keraton Kasepuhan Cirebon terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Upacara Mauludan yang digelar pada 16 Februari tersebut disertai pembuatan…

Menilik Fundamentalisme Agama Lewat Film "Khalifah"

IndonesiaSeni.com, Jakarta - Tema reliji masih menjadi tema yang menarik untuk dituangkan ke dalam sebuah film bagi sutradara generasi baru Indonesia, Nurman Hakim. Setelah sukses…

Menilik Fundamentalisme Agama Lewat Film Menilik Fundamentalisme Agama Lewat Film

Proyek-proyek Keterasingan Sosial

    IndonesiaSeni.com, Jakarta - Adalah Louis Malle seorang sutradara Perancis (1932-1995) yang banyak memberikan kontribusi yang besar terhadap dunia perfilman Perancis maupun dunia internasional.…

Proyek-proyek Keterasingan Sosial Proyek-proyek Keterasingan Sosial

"Sang Pencerah", Kisah Seru Sosok Pembaharu

IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Jika agama diturunkan Tuhan sebagai rahmatan lil alamin–rahmat bagi alam semesta, seharusnya, agama  mampu menghadirkan kenyamanan bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Seperti…

Print
PDF
06
December
2009

Cerpen - Cerpen Terbaik "Kompas"

image_cerpen_kompas

 

Tradisi pemilihan cerpen terbaik Kompas yang sudah berlangsung sejak 1992 telah menghasilkan 16 cerpen terbaik, mulai dari “Kado Istimewa” (Jujur Prananto) hingga “Cinta di Atas Perahu Cadik” (Seno Gumira Ajidarma). Dan paling mutakhir, di tahun 2009 ini, terpilih cerpen Nukila Amal, “Smokol”. Hingga tahun 2004, pemilihan cerpen terbaik itu dilakukan oleh ”orang dalam Kompas”, yakni para redaktur yang dianggap punya kompetensi dengan dunia sastra. Mulai 2005, Kompas mencoba mengubah dengan memberikan otoritas pemilihan itu kepada ”orang luar”, yakni mereka yang dianggap memiliki kredibilitas dalam sastra sebagai juri untuk melakukan pemilihan cerpen terbaik.


Membaca cerpen-cerpen terbaik itu, kita bisa menemukan ”benang merah” yang seolah menandai orientasi estetis dari cerpen-cerpen pilihan Kompas. Ada kecenderungan pada pilihan realisme sebagai gaya bercerita. Bahkan, “Derabat” dan “Mata yang Indah” (keduanya karya Budi Darma) yang terpilh sebagai cerpen terbaik Kompas 1999 dan 2001, yang memiliki kecenderungan sebagai cerita yang surealis pun dituturkan dengan teknik penceritaan yang realis bila ditilik dari penggunaan dan pengolahan gaya bahasanya. Begitu pula “Jejak Tanah” (Danarto), cerpen terbaik 2002, memakai pola penceritaan realis meski kisah yang diusungnya adalah kisah yang berbau magis.

 

Sementara cerpen yang lebih psikologis, semacam “Waktu Nayla” (Djenar Mahesa Ayu), cerpen terbaik 2003, mencoba memakai teknik stream of consciousness, untuk mencapai alusi sebagaimana banyak dipakai pada cerita surealis, tetapi masih bisa dikenali sebagai cerita yang realis. Upaya untuk keluar dari stereotip penceritaan realis coba dilakukan Radhar Panca Dahana dalam “Sepi Pun Menari di Tepi Hari”, cerpen terbaik 2004. Teknik realisme itu terasa lebih subtil dalam cerpen terbaik 2006, “Ripin” (Ugoran Prasad), terlebih pada caranya menyelesaikan cerita yang mendekati surealis. Selebihnya, cerpen-cerpen terbaik itu adalah cerpen realis secara teknis, bentuk, dan pengolahan bahasanya.

 

Perlu dicatat, realisme dalam cerpen-cerpen terbaik itu bukanlah ”realisme yang tunggal”, melainkan realisme dengan banyak gaya sebagaimana kita banyak menemukan gaya dan bentuk realisme pada cerpen-cerpen Cekov, Kawabata, Maxim Gorky, Guy de Maupassant, O Henry, atau Ignasio Silone. Hal itu setidaknya memperlihatkan: meskipun realisme masih terasa dominan dan kuat dalam cerpen-cerpen kita, pada sisi lain tampak upaya untuk menemukan gaya-gaya penceritaan realisme yang beragam.

 

Maka, kita akan segera menemukan betapa realisme yang dikembangkan Kuntowijoyo dalam “Anjing-anjing Menyerbu Kuburan”, cerpen terbaik 1997, misalnya, sangat berbeda dengan gaya realisme linear yang dipakai Jujur Prananto dalam “Kado Istimewa”. Realisme Kuntowijoyo bukanlah realisme yang semata-mata berupaya mengisahkan ”realitas” secara langsung, tetapi juga memasukkan unsur-unsur kepercayaan magis sebagai bagian dari gaya realisme berceritanya. Dengan begitu, realisme bukanlah semata-mata sebuah upaya untuk melihat realitas secara kritis, tetapi juga sebuah cara untuk menceburkan diri dalam realitas. Konsekuensi lebih lanjut, kisah tidak terasa disusun dengan satu kesadaran kerangka plotting tertentu, tetapi membiarkannya mengalir untuk menemukan puncak kejutannya sendiri. Meski, pada tingkat tertentu, realisme Kuntowijoyo juga masih berpretensi untuk menjelaskan realitas (di luar teks) ke dalam konflik dan alur (realitas di dalam teks). Itulah yang membuat realisme Kuntowijoyo terasa kuat dengan tendensi sosiologis dan antropologis. Begitu pun kita bisa merasakan gaya realisme yang berbeda pada ”Pelajaran Mengarang” (Seno Gumira Ajidarma), cerpen terbaik 1992, dengan realisme yang dikembangkan Kuntowijoyo. Pada ”Pelajaran Mengarang”, Seno menempatkan realisme sebagai konkretisasi realitas (suasana bisa terasa dan teraba dalam cerita) melalui pendeskripsian yang detail dan intens, hingga realitas bisa lebih tampak keras dan kuat dalam teks, seolah yang realis berubah menjadi semacam hiper-realis. Dengan kata lain, realisme bukanlah semata memerikan apa yang nyata, tetapi untuk lebih mempertegas dan mempertajam apa yang ingin kita kenali sebagai yang nyata itu.

 

Pada akhirnya, dalam cerpen-cerpen terbaik Kompas itu, kita merasakan betapa realisme adalah sebuah upaya untuk menemukan pencapaian ”estetis penceritaan” dengan mencoba memformulasikan apa yang disebut kenyataan sosiologis ke dalam kenyataan literer. Pada tingkat ini, sebuah cerita yang baik bukanlah semata-mata bertumpu pada isu atau tema yang diangkatnya, tetapi lebih bagaimana cara seorang pengarang menemukan gaya dan bahasa penceritaannya. Maka, meski memakai jalan realisme sebagai gaya berceritanya, tetap saja sebuah cerita bisa menjadi unggul ketika berhasil menghadirkan dalam dirinya sesuatu yang khas. Kekhasan itu tampak dalam narasi penceritaan yang bersandar pada realisme.

 

Pada Akhirnya ialah Ending Cerita...

 

Ada satu kekhasan lain yang menjadi kekuatan cerpen-cerpen terbaik Kompas itu, yakni ending ceritanya. Sejak dari Kado Istimewa, kita sudah menemukan bahwa ending menjadi sesuatu yang penting. Kado yang disiapkan Bu Kustiyah untuk perkawinan anak Pak Gi, orang penting yang dikenalnya semasa zaman gerilya, adalah sesuatu yang menautkan hubungan batin Bu Kustiyah dengan pejabat itu. Bagi Bu Kustiyah, kado itu adalah sesuatu yang sangat istimewa, sesuatu yang menyimpan kenangan dan kehangatan persaudaraan. Tetapi, kado berupa tiwul yang disiapkan dengan sepenuh hati oleh Bu Kustiyah itu akhirnya dibuang begitu saja. Kado itu tak sepadan dengan kado lainnya yang berupa cek dan kunci mobil. Ending yang sesungguhnya sudah bisa ditebak sejak pertengahan cerita, tetap terasa menampilkan ironi karena kita merasakan bagaimana semua kenangan masa lalu semasa perjuangan tak ada harganya apa pun sekaligus dipersandingkan dengan kontras nilai dan ukuran yang lebih material.

 

Pada ”Pelajaran Mengarang”, ending itu terasa lebih kuat menyentak, juga karena ada kontras yang dilukiskan dengan keras. Kita tahu nasib Sandra memang buruk. Kita sudah tahu, macam apa ibu Sandra. Tetapi, kesimpulan Ibu Guru Tati bahwa semua muridnya mengalami masa kanak-kanak yang baik itulah yang menjadi kontras yang kuat. Perhatikan bagian ending itu:

 

Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah.

Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong: Ibuku seorang pelacur…

 

Selama pelajaran mengarang, kita tahu siapa Sandra dan siapa ibunya. Dan dari penggambaran seputar tokoh ibu Sandra, kita pastilah sudah tahu, kalau ia memang seorang "wanita panggilan". makanya, harus diciptakan semacam ironi, untuk membuat ending itu terasa kuat. Maka dimunculkanlah kesimpulan Ibu Guru Tati itu, yang yakin bahwa semua "murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah." Dengan begitu, terasalah ironi dan kontras itu...

 

Sementara dalam ”Lampor” (Joni Ariadinata), cerpen terbaik 1994, kontras itu muncul dalam pelukisan watak Tito yang tampak santun seolah ia adalah harapan di tengah karut-marut lingkungan dan keluarga yang brengsek yang hidup di kekumuhan Kali Code. Seperti ada yang diam-diam disembunyikan dalam kesantunan Tito itu, si anak paling baik, yang siap meledak di akhir kisah. Ketika malam-malam yang sumpek oleh birahi, Tito beringsut menghampiri adiknya Rahanah, kita pun ngeri membayangan apa yang terjadi. Dengan open ending, apa yang terjadi itu dibiarkan terhampar dalam imajinasi pembaca.

 

Dalam cerita yang sangat topikal dan kuat dengan isu aktual (yang membuat sebuah cerita bisa terjatuh dalam risalah sosial), seperti “Dua Tengkorak Kepala(Motinggo Busye), cerpen terbaik 2000, ending jugalah yang ”menyelamatkan” cerpen ini. Setelah semua informasi soal kekejaman selama Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh, tentang sosok Ali yang pergi hingga ke Libya dan menyebut dirinya sebagai ”putra Kadhafi”, juga sejarah kakek tokoh aku yang mati tertembak tentara Jepang, kontras dan ironi pada ending-lah yang memunculkan ambiguitas. Apakah tokoh aku memang perlu menuntut gelar pahlawan bagi kakeknya, yang ditembak Jepang? Dan bagaimana dengan Ali yang ditembak tentara sendiri? Pertanyaan itu membawa pada permenungan, dan di sanalah ambiguitas muncul. Pada “Dua Tengkorak Kepala” inilah, kita sangat disadarkan, bagaimana pentingnya sebuah ending. Bila saja ending cerpen ini ”gagal”, maka cerpen ini akan terikat pada aktualitas yang temporal dan bisa kehilangan daya gugah setelah semua aktualitas itu lewat.

 

Ambiguitas kepahlawan juga menjadi kekuatan ending pada “Anjing-anjing Menyerbu Kuburan”. Seorang maling yang mencari kesaktian membongkar kuburan mesti bergelut dengan anjing-anjing yang juga menginginkan bangkai mayat itu. Ketika ia ditemukan terkapar, sebagian penduduk menganggapnya pencuri dan sebagian lagi menganggapnya pahlawan karena telah berhasil mengusir anjing-anjing. Dalam ambiguitas, kita selalu menemukan dua kemungkinan (atau lebih) dalam memandang sebuah persoalan. Dan ending semacam itulah yang banyak dipakai Kuntowijoyo, seperti tampak dalam tiga cerpen lainnya, “Laki-laki yang Kawin dengan Peri” (cerpen terbaik 1995), “Pistol Perdamaian” (1996), “Jl Asmaradana” (2005) Dengan ending yang ambigu, sebuah cerita sesungguhnya tengah memulai awal penilaian dan penafsiran dalam diri pembaca. Ending semacam itu membuat cerita menjadi sebuah kontradiksi yang tak selesai, dan seperti terus hidup dalam imajinasi pembaca.

 

Lihatlah misalnya bagaimana Ugoran Prasad menutup cerpen “Ripin”, yakni saat bocah kecil itu minggat dari rumah dan memasuki keramaian pasar malam:

 

Beberapa puluh menit kemudian ia menyusuri trotoar yang entah menuju kemana. Ia menyandang gitar yang dicurinya dengan keberanian yang entah datang dari mana. Ia ingat Mak. Ia tersenyum. Satu-satunya yang tidak entah adalah bahwa Mak akan selalu mencintai Rhoma Irama. Itulah yang akan diraihnya. Ia akan menjadi Rhoma Irama, bukan sekadar Ripin Irama. Setiap kali Mak akan memeluk dan menimangnya.

Sampai puluhan tahun kemudian, satu kenyataan gelap yang luput dimengertinya adalah bahwa malam itu, setelah kepala Mak menghantam dinding, Mak mati. Kenyataan lain yang tidak diketahuinya: beberapa hari setelah kematian Mak, mayat Bapak ditemukan mengambang di kali, dengan lubang di dada dan di dahi, di tembak jagoan seram bernama Petrus.

Ripin tidak pernah kembali.

 

Yang ditemui Ripin, boleh jadi bukan pasar malam sesungguhnya, tetapi pasar malam imajinatif, yang ada dalam angan-angannya. Ketika memasuki pasar malam itu, mungkin Ripin sudah tak lagi hidup, tetapi ia memasuki dunia kematiannya, dunia kematian yang digambarkan sebagai pasar malam. Ini mengingatkan pada kisah-kisah mistis tentang pasar hantu yang sering terdengar, kisah ketika kuburan bisa menjelma keramaian, dan ketika seseorang memasukinya, ia akan hilang terseret ke dunia kematian, memasuki alam gaib. Dunia yang membuat Ripin tidak pernah kembali. Dan suasana gaib itulah yang terasa ketika Ripin seperti "mengenali" tetapi "juga asing" dengan sekelilingnya yang perlahan terasa tak dikenali.

 

Atau bolehlah kita simak bagaimana Djenar Mahesa Ayu menutup cerpennya, “Waktu Nayla” ini:

 

Nayla memacu laju mobilnya semakin kencang. Memburu kesempatan untuk bersimpuh memohon pengampunan atas dosa-dosa yang Nayla sesali tidak sempat ia lakukan, sebelum jam tangannya berubah jadi sapu, mobil sedannya berubah jadi labu, dan dirinya berubah jadi abu...

 

Dengan penggambaran yang surealis simbolis semacam itu, cerita dibiarkan terus berlangsung dalam imajinasi pembacanya: ketika jam tangan itu menjadi sapu, ketika mobil itu perlahan menjadi debu dan ia perlahan mengabu. “Waktu Nayla” Djenar Mahesa Ayu dan “Ripin” Ugoran Prasad ialah contoh menarik bagaimana sebuah akhir cerpen bisa begitu kuat dan memikat. kalau pun akhir cerita itu terasa surealis, itu ialah sebuah cara atau upaya untuk mengambangkan kisah agar ia tetap di ”dunia antara”, di ambang yang realis dan surealis, suatu upaya menciptakan ambiguitas makna pula.

 

Cerpen “Smokol” Nukila Amal, menurut saya memenangi cerpen terbaik Kompas 2009 juga karena ending-nya. Saya bahkan tak bisa membayangkan: mungkinkah cerpen ini akan masuk Kompas bila tidak diakhir dengan ending yang "sangat moralis" seperti itu. Pesan sosial cerpen ”Smokol” menjadi jelas, (dan ini sangat khas cerpen Kompas) karena ending-nya itu:

 

Maka, suatu hari Batara sungguh-sungguh jatuh berduka. Duka paling nadir yang pernah dirasanya. Batara menangis tersedu-sedu sambil memeluk satu pak tisu ukuran jumbo di depan ketiga temannya.

Ia berbicara terpatah tentang sekampung orang yang meninggal karena kelaparan, tentang anak-anak berperut buncit dan bermata hampa yang berjalan menyeret-nyeret kaki telanjang dan busung lapar mereka—adegan-adegan yang akhir-akhir ini kian sering muncul di TV. Ia tercenung membayangkan apa rasanya lapar berhari-hari. Ia mengenang meja makan Oma Sjanne di Tomohon yang penuh sesak dengan makanan, tak satu pun tamu atau musafir yang keluar dari rumah mereka dalam keadaan lapar. Ia merenungkan betapa tampilan mejanya selama ini adalah aspirasi penciptaan kembali meja makan mendiang omanya. Batara tak mengerti mengapa Oma Sjanne luput menyelipkan satu saja bau kelaparan di antara sejuta bebauan sedap masakan di dapur, mengapa meja makan Oma Sjanne tak pernah menampakkan realisme meja-meja makan lain yang kosong belaka.

Kini bayang-bayang lapar yang telah selalu tercegat di bawah meja makan itu datang menerjang di depan mata Batara. Berdiam di dalam pelupuk matanya yang sembab, namun nyalang, menatap negeri ini. Negeri yang penjuru-penjurunya tak pernah didatangi peri smokol. Negeri yang tak kenyang dan tak bahagia, tak pernah surga.

Batara tampak agak kurus akhir-akhir ini.

 

Secara sederhana, ”Smokol” berkisah tentang Batara yang doyan menyantap makanan. Menikmati makanan bagi batara ada seni dan keindahan, bahkan bermakna filosofis. Setiap sajian makanan adalah ekspresi dan pikiran. Kita boleh menganggapnya kegenitan kelas menengah sosial kita yang snobis. Dan ending yang moralis itu, menjadi semacam tamparan moral yang kuat. Dua orang juri yang memilih cerpen itu sebagai cerpen terbaik, yakni Rocky Gerung dan Linda Cristanty (yang sangat ceroboh dan asal-asalan dalam memberi catatan pengantar pertanggung jawaban penjuriannya), mungkin terpesona pada gaya komikal dan cara penarasian cerita yang dianggap unik, tetapi ending itulah yang terasa membuat kontras semua nonsen tentang gaya hidup Batara menjadi kuat.

 

Tapi, pada ”Smokol”, ending itu jugalah yang menurut saya membuat seluruh gaya bercerita Nukila yang main-main dan bagai tukang cerita yang piawai (semacam Batara yang piawai sebagai tukang masak) menjadi terasa hambar karena "moralitas" yang muncul di akhir kisah: yakni ketika Batara tak lagi berselera makan dan memasak karena tayangan anak-anak yang kelaparan di televisi. Saya yakin, Nirwan Dewanto akan mengatakan: inilah moralitas yang terlalu dipaksakan, seperti kebayakan cerpen-cerpen dalam koran. Betapa diktatisnya ending ini, "Berdiam di dalam pelupuk matanya yang sembab, namun nyalang, menatap negeri ini. Negeri yang penjuru-penjurunya tak pernah didatangi peri smokol. Negeri yang tak kenyang dan tak bahagia, tak pernah surga.",

 

seperti sebuah kesimpulan dari risalah sosial, yang membuyarkan kekuatannya sebagai sebuah kisah (yang sesungguhnya sedap dikudap).

 

Tapi bagaimana pun, memang, ending itulah yang membuat ”Smokol” jadi "jelas dan tegas" sebagai sebuah kisah. Dan seperti pada ”Dua Tengkorak Kepala” (Motinggo Busye), cerpen terbaik 2000 itu, ending jugalah yang membuat ”Smokol” menjadi cerpen terbaik Kompas. Lepas dari kita suka atau tidak kita dengan ending model begitu.

 

Agus Noor

Cerpenis, Penulis Naskah Teater,

Tinggal di Yogyakarta
{sharethis}


Add this page to your favorite Social Bookmarking websites

Author: Agus Noor

Add comment


Security code
Refresh